menulis butuh motivasi,
menulis butuh suasana,
menulis butuh referensi,
menulis butuh bla..bla..bla..
kecuali menulis sudah menjadi kebutuhan itu sendiri
"ungkapan tulus bagi kehidupan untuk menebar kemanfaatan"
menulis butuh motivasi,
menulis butuh suasana,
menulis butuh referensi,
menulis butuh bla..bla..bla..
kecuali menulis sudah menjadi kebutuhan itu sendiri
Bicara mengenai manajemen tidak bisa dilepaskan dengan kepemimpinan. Karena manajemen merupakan suatu cara untuk menjalankan kepemimpinan. Banyak orang beranggapan bahwa sukses menjadi pemimpin ditentukan oleh knowledge. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah karena ternyata 80% manajemen itu adalah art atau seni memimpin sedangkan knowledge sisanya 20 %. Kesuksesan me-manage sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang berbeda untuk ukuran waktu, tempat dan kesempatan tertentu sehingga ekspresi pemimpin dalam mengambil keputusan sangat berpengaruh. Pemimpin yang bermodal intelektual bagus belum menjadi jaminan dapat mengambil keputusan dengan tepat, kalau cara berkomunikasi, kemampuan untuk cara bernegosiasi, membuat sinergi semua faktor yang mempengaruhi tidak tepat. Mary Parker Follet mengatakan bahwa manajemen adalah “ the art of getting things done trough the other” , seni mencapai sesuatu melalui orang lain. Ekspresi kepemimpinan yang beragam inilah yang dimaksud seni dalam memimpin. Dari seni tersebut jika dapat diuji secara empiris dengan sistematika metode ilmiah justeru akan melahirkan pengetahuan (knowledge). Dan ekspresi seni yang berawal dari imajinasi ketika sudah terkristalisasi akan melahirkan budaya baru.
Jagalah pikiran karena akan menjadi ucapan,
Jagalah ucapan karena akan menjadi tindakan,
Jagalah tindakan karena akan menjadi kebiasaan,
Jagalah kebiasaan karena akan menjadi norma,
Jagalah norma karena akan menjadi sistem,
Jagalah sistem karena akan menjadi budaya
Seni kepemimpinan biasanya menggunakan knowledge sebagai bahan untuk membuat akselerasi agar tujuan bisa tercapai dengan efektif dan efesien.
Efektif dan efesien bedanya pada penggunaan kata sambung “yang” dan “dengan”. Efektif itu melakukan sesuatu yang benar, doing the right things sedangkan efesien melakukan sesuatu dengan benar, doing things right. Efektif terkait dengan hal yang akan dilakukan sedangkan efesien terkait dengan cara melakukan hal tersebut.
Karakteristik sesuatu itu dapat dikatakan efektif memenuhi kriteria SMART (Simple, Measurable, Aplicable, Reliable, Timeable)
-Simple , mudah dipahami
- Measurable, terukur dan mempunyai standar
-Aplicable, mungkin untuk dilakukan
-Reliable, relevan dan sesuai dengan keadaan
-Timeble, memiliki target waktu pencapaian
Kepemimpinan dituntut mampu menerapkan sikus manajemen PDCA (plan, do, check, action). Siklus ini akan menjaga sustainable organisasi dalam mencapai tujuan. Kepemimpinan juga membutuhkan kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, sehingga apa yang menjadi garis kebijakan mampu dicerna dan dijalankan dengan efektif dan efesien, meghindari salah persepsi dan kebuntuan dalam organisasi. Ada tiga jenis komunikasi :
1. Interpersonal comunication, membuat diri sendiri yakin sebelum meyakinkan orang lain
2. Intrapersonal comunication, kemampuan memahami audien sehingga informasi yang disampaikan selaras dengan kebutuhan. Singkatnya mampu menyampaikan sesuatu sesuatu dengan bahasa kaumnya
3. Mass comunication, berkomunikasi secara masif atau kelompok.
Stephen covey dalam kunjungan kei Indonesia menyampaikan bahwa ada dua faktor yang menyembabkan orang Indonesia kalah bersaing dengan bangsa lain :
1. Orang Indonesia tidak terbiasa menulis, sehingga sering mengulangi kesalahan yang sama
2. Orang Indonesia tidak mau belajar mendengarkan
Kunci sukses dalam berkomunikasi adalah memahami kebutuhan (need), keinginan (want) dan cita rasa (feeling) komunikan. Caranya dengan CONFIDENCE (Compromise, Open, Negotiate, Fair, Inovative, Direct, Expressive, Non verbal, Chance, Empower)1. Menumbuhkan Keyakinan
Perjalanan kehidupan kerap diwarnai datangnya kesempatan yang membentangkan peluang versus tantangan. Dalam setiap kesempatan selalu memunculkan resiko, pilihannya adalah eksekusi yang berarti take risk atau abaikan (ignore). Keputusan terhadap penuntuan pilihan selain muncul kalkulasi untung-rugi, kemampuan atau pengalaman juga dipengaruhi keyakinan. Dorongan keyakinan justru menjadi energi dahsyat sebagai pra syarat kita bisa sukses mengeksekusi peluang atau mengabaikan peluang yang satu untuk mendapatkan peluang lainnya.
Keyakinan yang kuat muncul dari proses objektif terhadap realita yang dipadankan dengan tata nilai (value) ada dalam sanubari. Keyakinan memberikan rasa aman dalam diri. Keyakinan akan menjadi tameng yang memperkuat daya tahan kita mejalankan kesempatan. Seringkali ketika berhadapan dengan kesempatan kita tidak langsung serta merta memperoleh keyakinan itu. Baru setelah menjalaninya keyakinan itu muncul di tengah jalan atau malah belakangan setelah orang lain yang berhasil merebut kesempatan itu.
Disinilah pentingnya niat yang baik (islahunniyah) sebagai pendahulu dari setiap perbuatan. Niat baik itu dianjurkan diringi dengan ritual do’a-do’a tertentu. Rahasianya ternyata, niat yang baik dan do’a-do’a penuh harapan menjadi pengikat yang menumbuhkan keyakinan. Atas dasar keyakinan itu apa pun pilihan keputusan akan melahirkan sikap positif untuk mencapai buah kesuksesan dari kesempatan yang diambil. Keyakinan akan memberikan yang terbaik bagi dirinya, apapun hasilnya. Banyak orang yang lupa diri ketika mereka merayakanan kemenangan atas kesempatan justeru karena keyakianan mereka tidak dibalut oleh niat yang baik apalagi do’a. Dan sebaliknya banyak orang yang gagal, mendapatkan inspirasi hikmah dari kesempatan yang terbuang sehingga bisa meraih kemenangan berlipat dari kesempatan-kesempatan yang datang berikutnya.
Adakalanya kesempatan yang diambil bukalah sesuatu yang prestisius dan populis dan bagi sebagian orang dianggap remeh dan tidak memerlukan effort / kesungguhan untuk mencapainya. Dengan atau tanpa perlu keringat lebih dia akan mudah diperoleh. Ini sah-sah saja karena setiap orang tentu punya prioritas dalam hidupnya. Namun alangkah indahnya ketika kita mampu mengkapitalisasi kesempatan tersebut dengan niat yang baik dan kesungguhan sehingga waktu, biaya, tenaga, pikiran sedikit apapun yang tercurah menjadi bernilai tidak hanya bagi diri kita atau saat ini tapi buat kebaikan disekeliling dan masa depan kita. Jangan lupa sesuatu yang baik bisa menjadi tidak baik karena niat yang salah.
Tahap berikutnya adalah apa yang kita lakukan saat kita bertemu dengan kesempatan. Ada tiga faktor yang menjadi syarat kita bisa memenangkan kesempatan untuk meraih kesuksesan.
1. Create to opportunity
Menangkap peluang dari kesempatan yang ada. Bagi orang yang cerdas setiap kesempatan bisa menawarkan peluang-peluang untuk sukses tidak hanya satu sisi tapi dari banyak sisi. Kesempatan melanjutkan pendidikan akan memberikan peluang menambah status, embel-embel gelar, apakah hanya itu yang didapat, tentu jawabannya tidak. Dan sejatinya malah bukan untuk itu, melainkan untuk memperoleh pengetahuan, meng-upgrade kemampuanuntuk kemudian diamalkan dan diaplikasikan untuk memperbaiki kualitas kehidupan.
2. Inovation
Dengan inovasi kesempatan menjadi sarat nilai tambah. Sesuatu yang kurang menarik menjadi sangat menarik. Sesuatu yang bisa menjadi luar bisa.
3. Risk calculation
Kesempatan yang datang pasti selalu dihadapkan pada resiko, sekecil apapun itu. Menghitung resiko penting sebagai alat ukur untuk menghitung kemampuan memenangkan kesempatan. Kalkulasi terhadap resiko juga dapat meminimalisir dampak dari kegagalan serta membuka peluang munculnya alternatif.
Dengan apa kita bisa mengeksekusi kesempatan. Jawabannya adalah resourches (sumberdaya), ketiga hal di atas pun sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya. Resourches dalam ilmu manajemen dikenal dengan istilah 5 M : Man, Money, Machine/Method, Material, Management.
Kesempatan juga kait eratannya dengan selera. Yang paling berpeluang menang adalah yang paling bisa memenuhi selera entah itu pasar, owner, stakeholder atau siapapun yang berkepentingan menawarkan/memberi kesempatan tersebut. Contoh sederhana adalah ketika seorang pria tertarik pada seorang gadis dan berniat mempersuntingnya maka dia harus dapat memenuhi selera si gadis, orangtua bahkan kerabatnya. Dia harus mampu membuktikan bahwa dia adalah orang yang paling tepat, memiliki kriteria yang diinginkan si gadis. Dia juga harus menyakinkan orangtua si gadis, bahwa dia dianggap mampu memenuhi ekspektasi mereka untuk membahagiakan putri kesayangannya.
Selera secara umum itu dipengaruhi oleh :
1. Tingkat pendidikan
2. Pendapatan
3. Gaya hidup
Pengambilan kesempatan bukan sekedar ambil jatah, aji mumpung atau daripada tidak. Kita harus mampu menyajikan keunggulan dalam setiap kesempatan. Keunggulan dapat berupa keunggulan komparatif, dimana level dengan pesaing sama tapi kita mampu lebih baik, keunggulan kompetitif, dimana kita mampu menyajikan sesuatu yang tidak dimiliki pesaing atau yang paling baik mengetengahkan keunggulan berkelanjutan, yakni keunggulan kompetitif yang senantiasa terjaga.
Seringkali saya menjumpai komentar-komentar yang muncul entah itu di website, di mass media atau di obrolan sehari-hari yang menjadi menu utama adalah persoalan politik. Saya terkadang terenyuh ketika menjumpai komentar yang negatif, berlebihan, bahkan tidak etis sampai terkadang membuat saya berfikir sebegitu penatkah politik kita? Jangan-jangan kita hanya terjebak padatnya arus trafick politik yang memancing emosional sehingga kita kehilangan kesabaran untuk mencari jalan yang lebih lancar dengan kendaraan yang lebih baik.
Di penghujung tahun ini berita kematian serta merta memenuhi ruang ingatan saya. Mulai dari kematian aktor lawak kawakan ketika sedang asyik berolahraga, parade bencana yang terjadi di beberapa wilayah nusantara antara lain longsor yang mengubur hidup-hidup penduduk Karanganyar yang baru selesai menolong membersihkan 5 rumah tetangganya yang tertimbun longsor pembuka sebuah ceremony yang sangat memilukan, luapan ganas air sungai di Magetan yang menghanyutkan jembatan beserta warga yang tengah berdiri di atasnya saat menyaksikan air bah meluap sebuah wisata bencana yang berakhir tragis serta rentetan banjir yang melumpuhkan kota-kota di jawa tengah dan jawa timur, parade ini seolah merekaulang 3 th peristiwa tsunami di serambi mekah, selang sehari giliran penduduk dunia tercengang dengan kematian seorang poltikus wanita kenamaan beserta ratusan pendukungnya kala mengkampanyekan agenda perubahan di negerinya.
Kematian seseorang mengingatkan kita terhadap makna kesedihan dan kehilangan yang terkemas bersama haru biru kenangan terhadap si mayit. Terkadang perasaan duka itu membuncah melintasi batas-batas biologis, ideologis, demografis atau ikatan-ikatan lain, mungkin kita sama sekali tidak pernah berinteraksi langsung dengan si mayit dan dia pun sama sekali tidak pernah mengenal kita tapi ketika si mayit terlanjur memberi kesan atau mengisi ruang emosi kita, maka kita mau tidak mau merasakan kepergian dia. Perasaan duka semakin menjadi sebanding dengan kuatnya (dekat) ikatan emosi dengan si mayit. Rasakan bagaimana situasi jiwa kita ketika ditinggalkan orang terdekat seperti ayah, ibu, anak atau isteri kita?; Apa yang kita rasakan ketika mendengar kabar orang yang kita kagumi karya, jasa dan perannya yang telah begitu banyak menorehkan kebaikan kepada kehidupan meninggal dunia?. Saya yakin nurani kita akan teriris, kenapa itu bisa terjadi tak lain karena mereka telah memberi banyak jasa, peran terhadap kita. Mereka telah mendapatkan ruang-ruang istimewa di dalam jiwa kita. Kebersamaan dengan mereka telah menemani kita menghadapi kehidupan, kontribusi mereka membuat kita menjadi diri kita seperti sekarang ini, dan semuanya menyatu dalam taman kenangan indah yang menghiasi memori jiwa kita. Semakin besar lingkup pengaruh seseorang maka akan semakin banyak orang yang menangisi kepergiaannya, semakin bergemuruh lantunan do’a terpanjat untuknya, semakin berebut orang bertakziah dan mengantar kepergiannya ke tempat bersemayam.
Pertanyaannya sekarang kita balik, kalau kita adalah si mayit itu kira-kira akankah orang-orang disekeliling kita merasakan seperti apa yang kita rasakan?
Tabiat kematian datang pada saat tak terduga. Kematian menjadi bagian dari misteri dan rahasia abadi yang tidak dapat diketahui secara pasti waktunya. Kita tidak diberi tahu kapan datangnya ajal sehingga kita bisa mempersiapkan detik-detik nafas berhembus dari tenggorokan. Berbagai disiplin ilmu dan kecanggihan teknologi tidak akan mampu menguaknya. Yang menarik, ditengah ketidakpastian saat kematiaan setiap orang pasti mati. Sepanjang sejarah kehidupan manusia tidak ada manusia yang hidup kekal.
Misteri mengapa waktu kematian dirahasiakan adalah agar kita bisa mengakhiri kehidupan dengan cara yang terbaik sambil meninggalkan jejak-jejak peran (amal) yang mampu memberikan kemanfaatan bagi kehidupan banyak orang. Boleh jadi kita tidak akan pernah tahu saat kematian kita tapi kita bisa memilih dengan cara apa kita mati. Secara umum ada beberapa pilihan dengan cara apa kita menjemput kematian :
Silahkan anda pilih dengan cara apa anda menjemput kematian...
Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi kemanfaatan bagi orang lain