Monday, June 1, 2009
Menikmati Peran
Seseorang yang memiliki antusiasme dan gairah dalam melakukan setiap peran dalam beragam aktifitas kehidupan tentunya akan melahirkan aura positif tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi bisa juga bagi orang yang lain di sekelilingnya. Minus gairah, orang akan terlihat datar, ala kadarnya bahkan tidak jarang terlihat malas menjalani kehidupan.
Bagaimana agar antusiasme dan gairah tersebut selalu membuat andrenalin yang akan menjadikan hidup lebih hidup. Satria Hadi Lubis dalam bukunya yang berjudul "Burn Yourself" menyatakan bahwa kunci keberhasilan seseorang mampu meledakan potensi pada dirinya adalah memiliki visi dalam hidup, dan bahkan visi itu harus dijabarkan dengan menggali visi dari setiap peran yang dijalankan.
Ibarat pulau impian (dream land) visi akan menuntun seseorang setapak demi setapak mengayuh, mengarahkan dan menjaga bahtera berjalan ke arah yang dituju. Terpaan badai, hantaman gelombang tidak akan mampu menghentikan laju bahtera, bahkan hempasan angin pun tak akan mampu menyesatkan bahtera dari tujuannya. Semua awak bahu-membahu menjalankan perannya masing-masing dengan satu tujuan mengantar bahtera bersandar di pulau impian. Sang nahkoda sangat memahami peran dia untuk mengendalikan kemudi bahtera, membaca arah angin, cuaca serta memastikan seluruh awak bekerja dengan baik. Sang juru mesin pun dengan baik memahami perannya memastikan mesin kapal bekerja optimal, cermat menggunakan bahan bakar dan tanggap mengatasi kerusakan yang terjadi. Sampai sang kelasi pun bijak memahami peranya untuk melayani kebutuhan logistik awak kapal, menjaga kenyamanan dek-dek yang ada.
Begitupun halnya dengan manusia, visi (turunan yang lebih gampang dicerna bisa berwujud cita-cita atau harapan) membuat andrenalin seseorang terpicu sehingga dia bergairah menuntaskan usaha-usaha dalam menggapainya. Visi itu akan menjadi pelecut motivasi menghadapi masalah, tantangan dan berbagai kendala yang menghadang. Visi akan melahirkan keyakinan yang kuat bahwa setiap perjuangan mencapainya pasti memerlukan pengorbanan. Dalam tataran praktis visi itu harus pula di-breakdown (dijabarkan) dalam setiap peran yang diambil, inilah yang kemudian dinamakan "visi peran". Misalnya Budi, diluar dirinya sebagai pribadi, dia adalah ayah dari 2 orang putri, suami dari seorang isteri yang sangat ia cintai, anak dari orang tua yang selalu dia hormati dan banggakan dalam hidup, dan karyawan dari sebuah institusi tempat dia bekerja. Seperti awak kapal tadi budi pun harus dapat mendefenisikan visinya sebagai seorang ayah, suami, anak dan karyawan agar semuanya bisa berjalan beriringan mendukung visi besarnya. Salah kalau peran-peran itu dianggap pekerjaan sambilan dan sambil lalu, masing-masing punya kepentingan dan skala prioritas tersendiri. Bahkan dalam beberapa orang terkadang salah satu dari peran tersebut mampu menginspirasi mereka sehingga mereka mencapai puncak dalam hidupnya. Sebetulnya peran-peran kecil itu kalau dapat dijalankan dengan sempurna tentunya menjadi energi besar dan mengkondisikan seseorang nyaman melakukan pekerjaan besar menggapai visi besarnya. Dan saya yakin kita sepakat bahwa Budi yang sukses paripurna adalah Budi yang bisa mencapai visi besarnya dan mampu menunaikan dengan baik semua peran yang dia memiliki.
Visi membuat seseorang bergairah menghadapi kehidupan. Antusiasme menyala-nyala sebenderang visi yang begitu jelas tampak di pelupuk mata. Setiap pergerakan peran melangkah dengan penuh optimisme. Sesulit apapun peran terlihat dimata orang baginya adalah rengkuhan kenikmatan menjalaninya. Lihatlah Oshin, perjalanan hidup yang penuh dengan perjuangan dia jalani dengan begitu ikhlas, sabar, gigih penuh antusiasme serta sangat menikmati perjalan peran apapun dia jalani dengan keyakinan kuat akan datangnya kehidupan yang lebih baik, sehingga diakhir cerita Oshin menjelema menjadi sosok yang begitu sukses.
Visi yang luhur akan memberikan kenikmatan dalam menjalankan peran-peran kehidupan, dia akan mencegah seseorang dari berkeluh kesah, berprasangka dan stress. Karena dia begitu memahami hakikat berjalannya fitrah kehidupan. Visi yang luhur adalah niat yang terpatri kuat tinggal menyambutnya dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh sembari menggandengnya dengan tawakal yang ikhlas.
Monday, May 25, 2009
Kepenatan Politik
Seringkali saya menjumpai komentar-komentar yang muncul entah itu di website, di mass media atau di obrolan sehari-hari yang menjadi menu utama adalah persoalan politik. Saya terkadang terenyuh ketika menjumpai komentar yang negatif, berlebihan, bahkan tidak etis sampai terkadang membuat saya berfikir sebegitu penatkah politik kita? Jangan-jangan kita hanya terjebak padatnya arus trafick politik yang memancing emosional sehingga kita kehilangan kesabaran untuk mencari jalan yang lebih lancar dengan kendaraan yang lebih baik. Hingar bingar dan hiruk pikuk politik belakangan ini boleh jadi membuat sebagian dari kita merasa risih dan jengah. Lontaran janji dan adu argumen kampanye membuat hati merasa tidak nyaman karena acapkali mempertontonkan konflik, kebanggaan semu, fanatisme irasional. Lebih jauh mungkin bagi sebagian lagi yang sudah sempat mengikuti lebih dalam proses politik, akan secara kasat melihat prilaku para kontestan yang sudah menerabas aturan main demi memperoleh kekuasaan sehingga jargon demokrasi yang mengatakan "suara rakyat adalah suara tuhan" hanya menjadi bualan manis para pendukungnya, sementara dilapangan suara tuhan itu ternyata dapat digadaikan/diperjualbelikan dengan harga yang sangat murah.
Ada beberapa bentuk penyikapan atas terjadinya hiruk-pikuk politik ini, pertama ada orang yang melakukan perlawanan terhadap hajatan politik ini, ini lebih dari sekedar golput melainkan mereka terang-terang melakukan perlawanan, mereka menilai semua yang terkait dengan hajatan ini sudah mengkhianati prinsip-prinsip politik, entah itu regulator, penyelanggara, maupun peserta. fakta yang mereka jadikan argumen adalah suara golput terbukti menjadi pemenang sesungguhnya.
Kelompok kedua adalah golongan yang apatis, acuh, masa bodoh. Bagi mereka urusan politik sulit ditemukan hubungan simetris dengan nasib/garis kehidupan mereka. Ikut (nyontreng.red) atau tidak mereka tetap menjadi dan menjalani apa yang saat ini mereka jalani.
Kelompok ketiga adalah kelompok pendukung, kelompok ini tentunya adalah mereka yang jelas kelompok yang bermain dalam arena ini mereka adalah regulator (pemerintah), penyelanggara, maupun peserta dan konstituen (bisa kader atau cuma simpatisan). Mereka menganggap hajatan politik ini merupakan solusi untuk mengatasi berbagai persoalaan yang mendera bangsa ini.
Dan kelompok terakhir adalah kelompok yang maaf saya sebut kelompok predator. Keberadaan mereka boleh jadi berada di ketiga kelompok yang saya sebutkan diatas, bisa pula lintas sektoral mereka menancapkan kakinya untuk bermain. Infiltrasi mereka sangat ambivalen dan tidak bertanggung jawab. Pada kelompok pertama mereka melakukan sikap-sikap oposan tetapi bukan oposan sejati melainkan ditunggangi oleh tujuan tertentu sehingga terlihat sangat arogan, merasa benar sendiri dan sangat meremehkan yang lain. Dalam kelompok kedua mereka cendrung di dominasi oleh kelompok yang tidak mau ikut ribet, capek-capek dan mempertahankan idealisme serta sikap rasionalnya untuk menggunakan hak politiknya, tapi bagi mereka yang penting apa yang bisa mereka dapatkan dari hajatan politik sehingga predator yang ada dalam kelompok ini tidak juga konsisten dengan apatisme tersebut tetapi mereka melihat peluang apa yang mereka dapatkan seperti misalnya "money" dari "politik", tergoda oleh transaksi politik semu yang membuat suara nurani tergadai, atau memperkeruh suasana dengan komentar-komentar asal bunyi dan tidak bertanggungjawab.
Keberadaan predator pada kelompok ketiga ini sangat berbahaya karena keberadaan mereka di kelompok ini sejatinya bukan memperjuangan atas apa yang mereka sampaikan ke khalayak, yang tampak manis mengatasnamakan kepetingan bangsa dan negara yang lebih besar, melainkan yang mereka kehendaki adalah tercapainya kepentinga-kepentingan sesaat yang bersifat pribadi dan kelompoknya. Saya katakan berbahaya karena, INGAT mereka memainkan sepak terjangnya pada kelompok pertama dan kedua. Mereka akan memainkannya kapan mereka mau untuk dapat memuluskan pencapaian kepentingan mereka, terutama ketika mereka merasa terancam kepentingannya.
Mari sejenak kita kembali pada hakikat politik itu sendiri agar kita jangan sampai hanya menjadi penonton yang asyik-masyuk menikmati pementasan politik yang tengah berlangsung, atau berduka lara dalam haru biru sekenario pementasan, atau pulang dengan cepat karena pertunjukan yang begitu menjemukan, padahal kita ternyata belum utuh menyaksikan dan memahami seluruh fragmen pertunjukan.
Kita harus menyadari bahwa kita adalah pewaris sah negeri ini, baik buruknya negeri ini sedikit banyak kita turut berkontribusi. Saat ini suara kita sama nilainya dengan suara seorang presiden. Ketika kita sebagai individu sudah menyerah dengan kepenatan politik mungkin kita juga merasa tidak sendiri tapi bersama puluhan juta bahkan ratusan juta warga yang lain, maka saya tidak bisa membayangkan kemana negeri ini akan dibawa.
Istilah politik menurut wikipedia adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.
Melihat defenisi ini berpolitik hakikatnya sudah menjadi bagiam inhern dalam diri seorang manusia, dan itu dimulai jauh sebelum kelahiran kita. Ketika kedua ayah-ibu kita memutuskan untuk menikah mengikat janji membentuk sebuah keluarga disitu mulai muncul pembagian peran dan dalam setiap perjalanan sudah pasti terjadinya kesepakatan/keputusan diantara keduanya, sampai kita terlahir menjadi seorang warga dari sebuah negeri bernama indonesia. Ini saya sebut tahapan dari sikap berpolitik seseorang mulai dari individu, pembetukan keluarga, bermasayarakat hingga dalam ujung istilah politik wikipedia dalam bernegara seperti saya sedang kita bicarakan.
Sebagai warga negara, hak politik adalah hak asasi yang dijamin konstitusi. Kita bebas menentukan pilihan kita dan tidak diperkenankan adanya pemaksaaan kehendak. Sang Khalik menganugerahkan panca indera, akal dan perasaan sebagai perangkat kita hidup untuk memudahkan kita memutuskan pilihan kita untuk bersikap. Dalam bermasayarakat, berbangsa, bernegara dan beragama kita pun dibekali dengan rambu-rambu yang mengarahkan setiap pilihan jalan kehidupan kita, termasuk pilihan politik berusaha agar benar dan baik bagi semua, tidak mendzalimi yang lain.
Saya berkeyakinan bahwa jika kita objektif, rasional, mengedepankan nurani sikap apapun yang kita ambil dalam memberdayakan hak politik kita akan membawa kemanfaatan yang besar bagi bangsa ini, dan tentunya predator-predator di negeri ini akan semakin sempit ruang geraknya dan bukan mutahil akan enyah dari negeri tercinta ini. Jadi kini anda bebas menentukan pilihan terbaik ada, tentunya bukan predator. wallahua'lam
Monday, January 28, 2008
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun
Alloh SWT mendelegasikan dua malaikat pembantunya untuk menemui di pengadilan barzah, menyaksikan persaksian tangan, kaki, dan mengunci mati mulut yang di muka manusia dapat membuat kebenaran terlihat samar dan kejujuran terselimuti mendung kontroversi, pro kontra sebagai tabiat kefanaan dunia. Dihadapan Nungkar dan Nakir pak Harto menerima keputusan hukum dari Yang Maha Adil tanpa kuasa hukum, tanpa pengacara, tanpa pendukung, tanpa upeti, dia hanya seorang diri.
be continued
Friday, December 28, 2007
Memilih cara mati kita...
(QS Al Mulk:1-2)
Di penghujung tahun ini berita kematian serta merta memenuhi ruang ingatan saya. Mulai dari kematian aktor lawak kawakan ketika sedang asyik berolahraga, parade bencana yang terjadi di beberapa wilayah nusantara antara lain longsor yang mengubur hidup-hidup penduduk Karanganyar yang baru selesai menolong membersihkan 5 rumah tetangganya yang tertimbun longsor pembuka sebuah ceremony yang sangat memilukan, luapan ganas air sungai di Magetan yang menghanyutkan jembatan beserta warga yang tengah berdiri di atasnya saat menyaksikan air bah meluap sebuah wisata bencana yang berakhir tragis serta rentetan banjir yang melumpuhkan kota-kota di jawa tengah dan jawa timur, parade ini seolah merekaulang 3 th peristiwa tsunami di serambi mekah, selang sehari giliran penduduk dunia tercengang dengan kematian seorang poltikus wanita kenamaan beserta ratusan pendukungnya kala mengkampanyekan agenda perubahan di negerinya.
Kematian seseorang mengingatkan kita terhadap makna kesedihan dan kehilangan yang terkemas bersama haru biru kenangan terhadap si mayit. Terkadang perasaan duka itu membuncah melintasi batas-batas biologis, ideologis, demografis atau ikatan-ikatan lain, mungkin kita sama sekali tidak pernah berinteraksi langsung dengan si mayit dan dia pun sama sekali tidak pernah mengenal kita tapi ketika si mayit terlanjur memberi kesan atau mengisi ruang emosi kita, maka kita mau tidak mau merasakan kepergian dia. Perasaan duka semakin menjadi sebanding dengan kuatnya (dekat) ikatan emosi dengan si mayit. Rasakan bagaimana situasi jiwa kita ketika ditinggalkan orang terdekat seperti ayah, ibu, anak atau isteri kita?; Apa yang kita rasakan ketika mendengar kabar orang yang kita kagumi karya, jasa dan perannya yang telah begitu banyak menorehkan kebaikan kepada kehidupan meninggal dunia?. Saya yakin nurani kita akan teriris, kenapa itu bisa terjadi tak lain karena mereka telah memberi banyak jasa, peran terhadap kita. Mereka telah mendapatkan ruang-ruang istimewa di dalam jiwa kita. Kebersamaan dengan mereka telah menemani kita menghadapi kehidupan, kontribusi mereka membuat kita menjadi diri kita seperti sekarang ini, dan semuanya menyatu dalam taman kenangan indah yang menghiasi memori jiwa kita. Semakin besar lingkup pengaruh seseorang maka akan semakin banyak orang yang menangisi kepergiaannya, semakin bergemuruh lantunan do’a terpanjat untuknya, semakin berebut orang bertakziah dan mengantar kepergiannya ke tempat bersemayam.
Pertanyaannya sekarang kita balik, kalau kita adalah si mayit itu kira-kira akankah orang-orang disekeliling kita merasakan seperti apa yang kita rasakan?
Tabiat kematian datang pada saat tak terduga. Kematian menjadi bagian dari misteri dan rahasia abadi yang tidak dapat diketahui secara pasti waktunya. Kita tidak diberi tahu kapan datangnya ajal sehingga kita bisa mempersiapkan detik-detik nafas berhembus dari tenggorokan. Berbagai disiplin ilmu dan kecanggihan teknologi tidak akan mampu menguaknya. Yang menarik, ditengah ketidakpastian saat kematiaan setiap orang pasti mati. Sepanjang sejarah kehidupan manusia tidak ada manusia yang hidup kekal.
Misteri mengapa waktu kematian dirahasiakan adalah agar kita bisa mengakhiri kehidupan dengan cara yang terbaik sambil meninggalkan jejak-jejak peran (amal) yang mampu memberikan kemanfaatan bagi kehidupan banyak orang. Boleh jadi kita tidak akan pernah tahu saat kematian kita tapi kita bisa memilih dengan cara apa kita mati. Secara umum ada beberapa pilihan dengan cara apa kita menjemput kematian :
- Merampas takdir
Cara ini dipilih oleh orang yang mengalami depresi berat dan tidak mempunyai kapasitas cadangan mental yang memadai. Orang tersebut menjadi frustasi dan kehilangan harapan dengan kehidupan, mereka akhirnya memilih cara bunuh diri. Ada juga orang yang bunuh diri dengan alasan untuk menjaga harga diri dan kehormatan, padahal sepertinya masih ada cara yang lebih terhormat untuk menjaga harga diri dan kehormatan yaitu dengan melakukan taubat yang sebenar-benarnya dengan cara mengakui kesalahan, menerima segala konsekuensi hukum akibat kesalahan yang diperbuat, meminta maaf dan menunaikan hak-hak pihak yang terdzalimi, tidak akan pernah mengulangi kesalahan serta berbuat hal-hal yang terbaik untuk mengisi sisa kehidupannnya bukannya dengan bunuh diri yang bisa jadi malah bentuk lain dari sikap frustasi itu sendiri dan terkesan lari dari masalah. Mengakhiri hidup dengan bunuh diri sama dengan merampas takdir waktu kematian. - Mengabaikan takdir
Cara ini dipilih oleh orang yang lupa bahwa kematian akan menimpa dirinya dan orang yang tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian maka mereka akan berjuang sekuat tenaga agar hidup yang hanya sekali bisa mereka nikmati sepuasnya. Terkadang mereka terjebak dalam kebebasan yang kebablasan, yakni kebebasan yang menganiaya diri sendiri seperti pemadat, pecandu narkoba, atau psikopat. Dan kebebasan yang merugikan pihak lain baik orang maupun meusak lingkungan demi kepentingan dirinya sendiri. Bagi mereka yang terpenting adalah bisa hidup sebebas-bebasnya dan sepuas-puasnya, karena prinsip mereka hidup hanya sekali kapan lagi bisa menikmatinya. - Menyambut takdir
Cara ini menjadi pilihan Setiap orang mengupayakan masa hidupnya dilalui dengan penuh kemuliaan dan kalaupun kematian datang menjemput maka akan cara yang terbaik (khusnul khotimah) . Kalau mereka yang mengabaikan takdir, akan berjuang sekuat tenaga agar hidup yang hanya sekali bisa mereka nikmati sepuasnya. Bagi orang yang menyambut takdir, mereka meyakini adanya kehidupan akherat mereka jauh lebih giat berusaha agar semasa hidup di dunia yang hanya sekali (sementara) bisa mencicipi porsi kue kebahagian dunia dan sembari mempersiapkan bekal untuk nanti di akherat dan kelak merasakan sepenuhnya kebahagiaan akherat yang bersifat abadi. Dengan cara ini orang tidak takut sama sekali dengan kematian dan sangat meyakini akan datangnya kematian. Ketika mereka hidup mereka hidup dengan segenap kesungguhan menjadikan setiap detik yang dilaluinya penuh dengan arti, tidak tersia-siakan. Totalitas dalam menjalani kehidupan, tawarannya cuma dua hidup mulia atau kalaupun harus berkurban jiwa/menjemput kematian maka kematian itu juga dengan cara mulia. Orang-orang yang memilih cara ini kerap menjadi sosok-sosok pejuang yang menorehkan segenap prestasi fenomenal yang diwariskan kepada generasi setelahnya. Kematian mereka di medan perjuangan menjadi penutup yang sangat manis dalam menutup lembaran hidupnya.
Silahkan anda pilih dengan cara apa anda menjemput kematian...
Friday, June 29, 2007
Iman Menjadi Perisai dan Senjata Menebarkan Kebaikan
Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan dan ia dalam keadaan beriman, Maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.( QS:Taha 112)
Rasulullah dan para sahabat merasakan begitu hebatnya tekanan para kaum musyikin Quraiys ketika mereka mengembargo kaum muslimin, mereka tak hanya memutus jalur logistik tapi lebih dari itu mereka mengisolasi dan membuat kaum muslimin menjadi orang asing di negeri mereka sendiri. Hak kaum muslimin untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup mereka terputus. Ruang gerak mereka dipersempit, peran mereka dibatasi sebatas kaum muslimin. Kompromi yang ditawarkan kaum Quraisy adalah meminta Rasulullah menghentikan aktifitas dakwahnya sebagai syarat mereka menghentikan embargo. Pada saat itu penderitaan Rasulullah ditambah dengan meninggalnya isteri tercinta Khadijah r.a. dan pamannya Abu Thalib yang selama ini mendukung dakwah beliau.
Lalu apakah yang bisa membuat Rasulullah dan para sahabat bertahan dari situasi sulit tersebut. Keimananlah yang menjadi perisai sekaligus senjata kaum muslimin untuk bertahan untuk menang. Keimanan melahirkan energi kesabaran luar biasa yang tak pernah kering dibawah teriknya tekanan embargo. Keimanan menolak kompromi kafir Quraisy untuk berbagi keyakinan, sehari mengakui kesesatan mereka sehari kemudian mengikuti keyakinan kita bukan bentuk toleransi yang Islam diajarkan. Tidak ada kesepakatan atas tawar-menawar keimanan, karena keimanan adalah keyakinan setiap individu yang harus dihormati dan merupakan hak asasi manusia. Tidak ada kompromi atas legalisasi kedzaliman, karena legalitas kedzaliman tidak akan pernah membawa kebaikan dan justru yang akan mencabut hak asasi sampai pada akar-akarnya. Al halalul bayyin wal haramu bayyin, antara kebenaran dan kedzaliman ada demarkasi yang jelas bahkan ketika ada sesuatu keraguan (syubhat) yang tampak berada di garis perbatasan kita dianjurkan untuk meninggalkannya. Tugas mulia menebarkan kebajikan, menyemai benih-benih kemanfaatan, mengawal perubahan di berbagai bidang kehidupan pijakannya adalah keimanan. Kebaikan yang dilakukan dengan keimanan akan menjadikan setiap intimidasi kedzaliman menjadi sumbu pembakar semangat perjuangan yang akan semakin memperkokoh bangunan kebaikan yang dipancangkan. Keimanan akan menjauhkan para penyeru kebaikan dari sikap kekhawatiran terhadap ancaman yang mengintainya. Tidak ada sesuatupun yang mereka takutkan selain Tuhannya. Kebaikan yang dilakukan dengan mudah tanpa tantangan yang merongrong seringkali membuat lengah dan kehilangan daya kreatifitasnya. Sementara kebaikan yang penuh intimidasi akan memperkuat eksistensi kebaikan tersebut mengahadapi terpaan ujian yang lebih besar lagi.
Wednesday, June 27, 2007
Positioning

Tuesday, June 26, 2007
Ketika harus memilih…

